How to Film ICE: Jadi Saksi Mata (dan Jaga Diri!) di Era Digital
Dunia kita sekarang ini, kamera di tangan itu bukan cuma buat selfie atau rekam momen lucu kucing. Kadang, dia jadi senjata paling ampuh untuk keadilan, terutama saat berhadapan dengan institusi pemerintah seperti ICE (Immigration and Customs Enforcement) di Amerika. Kedengarannya berat, ya? Memang. Tapi percayalah, kekuatan sebuah video itu bisa luar biasa.
Coba bayangkan ini: Januari 2026, di Minneapolis, dua warga Amerika, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, tewas saat mereka cuma lagi… merekam. Renee adalah pengamat hukum, istrinya merekam. Alex Pretti? Dia pegang ponsel, merekam agen yang kemudian merenggut nyawanya. Tragis, kan? Ini bukan cerita fiksi, ini kejadian nyata yang bikin kita merinding.
Tapi di situlah letak paradoksnya. Seseram apapun tindakan observasi itu bagi mereka, justru rekaman video itu yang jadi bukti kuat pembunuhan mereka dan sekarang jadi alat untuk menuntut pertanggungjawaban para agen federal itu. Tanpa video-video itu, mungkin ceritanya akan sangat berbeda, dan kebenaran bisa saja terkubur.
Jadi, kita dihadapkan pada pilihan sulit: seberapa jauh kita berani mengambil risiko untuk merekam dan melawan ‘invasi’ ICE ke kota-kota Amerika? Ini bukan cuma soal keberanian, tapi juga soal hak, akuntabilitas, dan yang paling penting, keselamatan diri.
Risiko Besar, Tapi Dampak Lebih Besar
Trevor Timm, salah satu pendiri Freedom of the Press Foundation, bilang begini: "Jujur saja, tidak ada cara untuk merekam ‘dengan aman’ saat ini. Semua orang mungkin mengambil risiko karena perilaku ICE yang agresif, kurang ajar, dan terang-terangan ilegal." Serem, ya? Tapi dia juga menambahkan, kasus Alex Pretti itu terlihat dari berbagai sudut karena banyak orang lain yang juga merekam. Dan karena ada rekaman itu, kebohongan-kebohongan yang disebarkan administrasi Trump langsung terbongkar. Video itu memang saksi bisu yang jujur.
Ini bukan cuma soal ICE, lho. Sudah dua dekade lebih, smartphone jadi alat penting bagi aktivis di seluruh dunia untuk mendokumentasikan ketidakadilan dan mempengaruhi diskusi politik. Di AS, sebenarnya ada Amandemen Pertama Konstitusi yang melindungi hak kita untuk merekam pejabat pemerintah di ruang publik. Ini hak dasar warga negara, lho!
Tapi ya gitu, pejabat pemerintah kadang suka mutar balik fakta. Kristi Noem, sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), pernah bilang merekam agen federal itu "kekerasan" atau "doxing" (menyebarkan informasi pribadi). Bahkan juru bicara DHS sampai bilang itu "kejahatan federal". Padahal, ironisnya, agen ICE sendiri sering "doxing" diri mereka sendiri dengan cara mereka berinteraksi di publik. Aneh, kan? Narasi ini jelas upaya untuk mengintimidasi dan mencegah orang merekam.
Jackie Zammuto dari Witness, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pakai video untuk melawan pelanggaran hak asasi manusia, menegaskan: "Video punya kekuatan untuk mengungkap penyalahgunaan, menuntut akuntabilitas, dan menantang narasi resmi." Tapi dia juga mengingatkan, "Pada saat yang sama, kami melihat peningkatan penargetan terhadap para perekam, bahkan jurnalis. Ini risiko besar, dan penting bagi setiap orang untuk mempertimbangkan risiko itu dan tingkat kenyamanan mereka dalam mengambilnya."
Intinya, video itu alat yang sangat kuat untuk keadilan, tapi penggunaannya butuh perhitungan matang. Nah, biar kamu lebih siap dan aman (seaman mungkin, ya), ini dia beberapa tips praktis yang dikumpulkan WIRED dari para ahli dan mereka yang sudah sering merekam tindakan otoritas:
Sebelum Kamu "Action!" (Persiapan Penting)
Oke, sebelum kita pegang kamera dan siap merekam, ada beberapa persiapan penting yang bisa bikin kita lebih aman. Anggap saja ini kayak persiapan sebelum "perang" kecil di era digital.
-
Ponsel Cadangan (Burner Phone): Tips pertama yang paling sering disebut-sebut adalah pakai ponsel cadangan atau "burner phone". Kenapa? Supaya privasi kamu dan orang di sekitarmu lebih terjaga. Petugas imigrasi punya kemampuan pengawasan yang canggih banget, mulai dari beli data iklan online, pakai drone pengawas, sampai akses jaringan pembaca plat nomor dan sistem yang bisa memantau ponsel di seluruh lingkungan. Mereka itu kayak mata-mata digital yang canggih banget, lho! Kalau ponsel harianmu sampai jatuh ke tangan mereka, semua data digitalmu bisa diakses. Makanya, pakai ponsel cadangan yang isinya cuma seperlunya saja itu penting banget. Minimalisir risiko lah.
-
Keamanan Ponsel Utama (Kalau Terpaksa Pakai): Nah, kalau terpaksa banget pakai ponsel utama, matikan semua biometrik seperti Face ID atau sidik jari. Ganti dengan PIN atau kata sandi. Kenapa? Karena untuk memaksa kamu membuka ponsel pakai PIN atau kata sandi, mereka butuh surat perintah atau putusan pengadilan. Sementara, untuk biometrik, secara hukum lebih mudah bagi mereka untuk memaksa kamu membukanya. Ini detail kecil tapi krusial yang bisa jadi penyelamat datamu!
Saat Kamu "On Cam" (Selama Merekam)
Baik, ponsel sudah siap, mental sudah siap. Sekarang, saatnya merekam! Ingat beberapa hal ini biar rekamanmu efektif dan aman (seaman mungkin, ya).
-
Mulai Rekam Secepatnya & Jangan Berhenti: Begitu kamu melihat ada insiden, langsung rekam! Dan usahakan jangan berhenti merekam sampai situasi benar-benar reda. Kalau kamu mulai dan berhenti berulang kali, orang bisa bilang videomu dimanipulasi atau ada bagian yang dipotong. "Kontinuitas itu kunci," kata Zammuto dari Witness. Rekaman yang panjang dan tanpa jeda itu punya kredibilitas lebih tinggi.
-
Rekam Horizontal: Pegang ponselmu secara horizontal, bukan vertikal. Kenapa? Karena ini akan merekam lebih banyak area di sekitarnya, memberikan konteks yang lebih lengkap. Video horizontal juga lebih "ramah" saat diputar di layar lebar atau komputer.
-
Konteks itu Penting (Biar Nggak Dibilang Hoaks): Dengan alat pembuat video yang canggih sekarang, gampang banget bikin video AI palsu atau rekayasa. Untuk membuktikan videomu asli, coba rekam perlahan-lahan 360 derajat. Ini akan menunjukkan lingkungan sekitar secara keseluruhan. NYCLU (New York Civil Liberties Union) juga menyarankan untuk merekam penanda lokasi terdekat, rambu jalan, atau bahkan layar ponsel yang menunjukkan waktu dan tanggal. Ini semua berfungsi sebagai "cap waktu" dan "cap lokasi" digital yang membuktikan keaslian rekamanmu.
-
Fokus pada Agen, Bukan Korban: NYCLU menyarankan fokus pada agen ICE itu sendiri untuk mendokumentasikan aktivitas mereka, bukan pada orang-orang yang jadi target operasi. Dengan fokus pada agen, kamu lebih mungkin menangkap lencana, pakaian, plat nomor kendaraan, atau fitur identifikasi lain yang bisa membantu transparansi dan akuntabilitas. Ingat, tujuanmu adalah menyorot tindakan petugas, bukan mempermalukan atau membahayakan para korban.
-
Rekam Sampai Tuntas: Bahkan setelah interaksi dengan agen sepertinya sudah selesai, teruskan merekam. Siapa tahu ada kejadian tak terduga saat kerumunan bubar atau saat agen melakukan tindakan "pasca-operasi" yang mungkin juga melanggar hukum. Kejadian tak terduga seringkali terjadi di menit-menit terakhir.
-
De-eskalasi & Patuh: Ini penting banget! Saat berinteraksi dengan agen federal, tunjukkan kepatuhan yang jelas untuk meredakan ketegangan. Tujuanmu merekam adalah untuk akuntabilitas, bukan untuk ikut campur operasi mereka. Kalau bisa, rekam dirimu sendiri saat berinteraksi dengan agen secara damai dan mematuhi perintah mereka. "Kalau mereka bilang mundur, ya mundur saja, supaya mereka tidak bilang kamu mengganggu," Zammuto menyarankan. Kamu bisa sambil bilang, "Saya menggunakan hak Amandemen Pertama saya untuk mengamati dan mendokumentasikan interaksi ini, dan saya mematuhi perintah." Rekam dirimu saat mundur dan bilang, "Saya mundur." Ini menunjukkan bahwa kamu kooperatif, tapi juga sadar akan hakmu.
-
Jangan Berbohong atau Merekam Diam-diam: Dalam situasi tegang seperti ini, para ahli menyarankan untuk tidak merekam secara diam-diam atau mencoba menipu agen. "Kamu bisa menempatkan dirimu dalam risiko lebih besar karena berpotensi berbohong kepada petugas penegak hukum federal," kata Timm dari Freedom of the Press Foundation. "Pertahanan terbaikmu adalah orang lain juga merekam tindakan itu, sehingga rekaman itu bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan saat kamu menggugat mereka atas pelanggaran hak konstitusionalmu." Jadi, kekuatan itu ada di banyak mata dan banyak kamera yang saling mendukung.
Setelah Kamu "Wrap Up" (Pasca-Rekaman)
Oke, syuting sudah selesai, adrenalin mungkin masih tinggi. Tapi pekerjaan belum tuntas! Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan setelah merekam. Ini juga sama pentingnya dengan saat merekam, lho!
-
Jangan Langsung Posting ke Medsos! (Tahan Dulu): Mungkin gatal ingin langsung posting ke media sosial begitu situasi aman, apalagi kalau itu berita heboh. Tapi, tahan dulu! "Ini bisa membahayakan orang-orang di video maupun orang yang merekamnya," kata Zammuto dari Witness. Rekamanmu bisa saja digunakan oleh sistem pengenalan wajah FBI untuk mengidentifikasi para pengunjuk rasa. Selain itu, posting terlalu cepat bisa membuatmu jadi target baru.
-
Ambil Tindakan Pencegahan untuk Privasi: Pertimbangkan siapa saja yang muncul di videomu dan apakah ada risiko bagi mereka jika videonya dipublikasikan. Kamu mungkin perlu menyamarkan wajah orang-orang yang tidak terlibat langsung (misalnya, para korban atau pengamat lain yang tidak ingin terekspos), menghapus metadata dari file, dan menghilangkan data lokasi. Privasi itu penting! Ada banyak aplikasi yang bisa membantumu melakukan ini dengan mudah.
-
Bagikan Secara Strategis: Daripada langsung posting dari akun pribadimu, lebih baik langsung bagikan rekaman itu ke media, penyidik, pengacara, korban aktivitas imigrasi, atau kelompok masyarakat sipil. Mereka tahu bagaimana cara menanganinya dengan aman dan efektif, dan mereka punya platform yang lebih terpercaya untuk menyebarkannya. Ini adalah jalur yang lebih aman dan punya dampak hukum yang lebih kuat.
-
Buat Cadangan (Backup): Jangan cuma simpan di satu tempat! Buat beberapa salinan cadangan. Bisa dibagikan ke kontak terpercaya atau diunggah ke penyimpanan cloud (Dropbox, Google Drive, dll.). Tapi ingat, Hany Farid, seorang profesor dan ahli forensik digital, mengingatkan bahwa pejabat penegak hukum bisa saja mengeluarkan surat perintah untuk mengakses file di server cloud. Jadi, selalu ada risikonya. Pikirkan juga enkripsi untuk file-file sensitif.
-
Jangan Edit Rekaman Asli: Penting banget ini: jangan pernah mengedit rekaman asli atau mengubah nama file! Kalau memang perlu ada editan (misalnya untuk menyamarkan wajah), lakukan pada salinan duplikatnya, jadi file aslinya tetap terjaga. "Platform media sosial sering mengubah kualitas dan menghilangkan metadata penting," kata Farid. "Saya selalu menganjurkan untuk menyimpan rekaman asli yang bisa dibagikan kepada wartawan dan analis forensik seperti saya." Rekaman asli dengan metadata lengkap itu adalah bukti emas!
-
Saluran Pelaporan Alternatif: Selain medsos, banyak upaya lain untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan aktivitas penegakan imigrasi. Beberapa jaksa agung negara bagian dan pemerintah daerah di AS (seperti New York, Arizona, California, Colorado, Maine, Oregon, Illinois, dan Minnesota) punya portal online tempat kamu bisa mengunggah video atau gambar untuk membantu penyelidikan. Organisasi media, kelompok masyarakat sipil, dan proyek komunitas seperti "ICE Watch" lokal juga sering punya drive online bersama tempat foto dan video bisa langsung diunggah. Ini cara yang lebih terstruktur dan aman untuk memastikan rekamanmu sampai ke tangan yang tepat.
-
Analisis Sistematis (Ala Bellingcat): Eliot Higgins, pendiri Bellingcat (organisasi jurnalisme investigasi terkenal), bilang kalau mengumpulkan video sebanyak mungkin dan memverifikasi detailnya itu sangat berguna untuk penyelidikan jangka panjang. "Kamu bisa melihat pola perilaku, melihat insiden yang mungkin tidak akan jadi viral di medsos karena tidak terlalu kejam, tapi tetap menunjukkan hal-hal yang setidaknya meragukan dan mungkin ilegal atau melanggar hak asasi manusia," jelasnya. Bellingcat bahkan pakai software open source bernama Atlos untuk mengarsipkan dan membuat database rekaman terkait ICE. Ini kayak jadi detektif online yang super canggih! Pelajaran dari konflik di Suriah dan Ukraina ternyata juga bisa diterapkan di AS, lho.
Ketika Video Masuk Ruang Sidang (Kekuatan Hukum)
Nah, ini dia tujuan akhir dari banyak rekaman video: dibawa ke jalur hukum. Selain berbagi dengan media dan proyek komunitas, beberapa orang mungkin memilih untuk membagikan rekaman mereka kepada pengacara.
-
Peran Pengacara: Cabang-cabang ACLU, seperti ACLU-MN dan ACLU-IL, sering mewakili para pengamat dalam tuntutan hukum terhadap pemerintah federal. Dalam kasus-kasus ini, pengacara sangat mengandalkan "deklarasi", yaitu pernyataan tertulis yang ditandatangani di bawah sumpah yang memverifikasi kebenaran sesuatu yang dilihat saksi. Ini bukan sekadar cerita, tapi pernyataan yang punya bobot hukum.
-
Formulir Pengaduan: Kelompok seperti ACLU-MN punya formulir pengaduan online tempat orang bisa
