"Uncanny Valley": Minneapolis Misinformation, TikTok’s New Owners, and Moltbot Hype
Dunia ini memang lagi aneh-anehnya ya? Kadang rasanya kayak kita hidup di film fiksi ilmiah, di mana garis antara fakta dan fiksi makin tipis, dan teknologi yang kita kira buat mempermudah hidup malah bikin pusing. Nah, pas banget, Uncanny Valley, podcast andalan dari WIRED, minggu ini ngajak kita menyelami berbagai kegilaan itu. Dipandu oleh Brian Barrett dan Zoë Schiffer, mereka ditemani Tim Marchman, direktur sains, politik, dan keamanan WIRED, buat ngebahas dari mulai hoaks politik di Minneapolis sampai drama kepemilikan TikTok yang baru, plus hype seputar asisten AI bernama Moltbot. Yuk, kita kupas satu per satu!
Kekacauan di Minneapolis: Berita Bohong dan Protes yang Memanas
Minggu ini, kita mulai dengan sesuatu yang cukup bikin hati miris, yaitu situasi di Minneapolis, Minnesota, terkait aktivitas agen imigrasi federal (ICE). Bayangkan saja, puluhan ribu warga Minnesota tumpah ruah ke jalanan buat protes damai. Mereka mau mendokumentasikan apa yang dilakukan ICE, apalagi setelah insiden penembakan fatal terhadap Renee Nicole Good dan penangkapan anak kecil berusia 5 tahun, Liam Conejo Ramos, oleh agen ICE. Situasinya makin parah pas Alex Pretti, seorang perawat berusia 37 tahun yang ikut protes, juga tewas ditembak agen federal.
Pemerintahan Trump, di tengah tekanan ini, akhirnya "memindahkan" Gregory Bovino, pejabat patroli perbatasan yang tadinya jadi komandan di sana, dan digantikan oleh "raja perbatasan" Tom Homan. Tapi di lapangan, ketegangan belum mereda sama sekali. Bahkan, Rep. Ilhan Omar, anggota kongres dari Demokrat, sampai disemprot zat misterius pas lagi ketemu konstituennya. Duh, serem banget kan?
Peran Influencer Sayap Kanan: Ketika Hoaks Jadi Senjata
Nah, di sinilah peran "influencer sayap kanan" mulai main. Tim Marchman menjelaskan bahwa alasan nominal kehadiran agen imigrasi itu awalnya buat mengatasi krisis penipuan program Medicaid di negara bagian itu. Memang sih, krisis penipuan itu ada, tapi klaim yang bikin pemerintahan Trump ngeh sama masalah ini ternyata enggak berdasar.
Ada seorang influencer sayap kanan bernama Nick Shirley yang punya peran besar di sini. Dia bikin video YouTube yang viral banget, mengklaim—tanpa bukti—bahwa pusat penitipan anak yang dikelola warga Somalia di Minneapolis udah nyalahgunain jutaan dolar. Dan coba tebak? Orang yang menyemprot Ilhan Omar (yang notabene keturunan Somalia-Amerika) itu, dari profil online-nya, kayaknya terhasut banget sama klaim-klaim semacam ini.
Brian Barrett menambahkan, ini bukan cuma soal terinspirasi. Begitu insiden penyerangan Ilhan Omar terjadi, langsung ada upaya dari lingkaran influencer sayap kanan tertentu buat memutarbalikkan fakta, bilang kalau penyerangan itu "sandiwara" belaka. Mereka bilang, "Lihat tuh, dia ngasih sinyal ke si penyerang!" Bahkan Presiden Trump sendiri, pas diwawancara ABC News, bilang, "Dia mungkin cuma sandiwara, tahu sendiri dia gimana." Ini bikin geleng-geleng kepala. Kita kayak terperangkap di pusaran konspirasi di mana setiap kejadian, sekecil apa pun, langsung diputarbalikkan, dicoreng, difitnah, tanpa dasar kenyataan. Ini udah jadi "playbook" mereka.
Zoë Schiffer juga ikut menyoroti kampanye fitnah instan terhadap Alex Pretti, perawat yang tewas ditembak. Awalnya, influencer sayap kanan bilang dia mau membunuh pejabat ICE dan agen itu membela diri. Terus, mereka mundurin sedikit ceritanya, bilang dia mungkin imigran ilegal. Sekarang, mereka kayaknya udah "sepakat" kalau "oke, dia orang normal, tapi enggak bertanggung jawab bawa senjata ke protes." Gimana enggak bikin pusing coba ngikutinnya?
Ketika Administrasi Mulai "Ngeles"
Tapi, ada secercah harapan nih (atau setidaknya, sebuah perkembangan menarik). Brian Barrett bilang, ini adalah salah satu momen pertama di mana pemerintahan Trump di era "Trump 2.0" ini terpaksa "ngeles" atau mundur sejauh ini. Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin menemukan beberapa batasan dalam apa yang bisa mereka katakan dan sejauh mana mereka bisa memutarbalikkan fakta.
Tim Marchman setuju. Teori operasi Donald Trump dan penasihatnya, Stephen Miller, adalah "jangan pernah menyerah, jangan pernah mundur, mengakui kelemahan berarti mengundang serangan." Jadi, ketika para "influencer sayap kanan" (yang bahkan termasuk orang-orang di tingkat tertinggi pemerintahan) langsung menyebut Pretti teroris atau pembunuh—klaim yang gampang dibantah—dan kemudian mereka terpaksa mundur, ini signifikan. Ada perang "kebocoran" internal juga di administrasi, saling tunjuk jari. Ini perkembangan baru, karena Gedung Putih ini biasanya enggak mau bilang salah atau mundur. Ini menunjukkan bahwa mereka enggak bisa memaksakan kehendak mereka pada kenyataan tanpa harus mempertanggungjawabkan kenyataan itu. Kata Tim, ini bisa jadi hal yang bikin orang sedikit lebih optimis, atau setidaknya, enggak terlalu "doom and gloom."
Para CEO di Gedung Putih: Pesta Film di Tengah Badai
Pindah ke topik yang bikin kita bertanya-tanya, "Seriusan nih?" Di hari yang sama Alex Pretti ditembak mati, sekelompok CEO perusahaan teknologi besar malah asyik menghabiskan malam Minggu di Gedung Putih. Mereka nonton pemutaran perdana film dokumenter Melania yang diproduksi Amazon MGM Studios, tentang Ibu Negara. Siapa saja yang hadir? Ada Tim Cook dari Apple, Andy Jassy dari Amazon, dan Lisa Su dari AMD. Di saat rakyat protes dan ada korban jiwa, para bos ini malah nonton film di Gedung Putih?
Zoë Schiffer bilang, ini momen yang menunjukkan betapa ironisnya situasi. Awalnya dia dan Brian mikir, "Pasti Tim Cook bakal bilang pesawatnya kena masalah cuaca dan enggak bisa datang." Tapi ternyata, di media sosial beredar foto-foto mereka di sana. Para karyawan tech, yang biasanya "kalem" soal politik, kali ini murka. Mereka mengirim pesan internal ke para pemimpin perusahaan, bilang, "Ini enggak bisa diterima. Kenapa kalian di sana?"
Butuh beberapa hari bagi Tim Cook buat ngeluarin pernyataan internal. Dan pernyataannya? Hambar banget. Dia cuma bilang, "Ini momen yang berat." Dia juga coba "ngeles" kehadirannya di Gedung Putih dengan bilang dia pake kesempatan itu buat ngobrol sama Presiden Trump tentang pandangannya—ngasih kesan dia ngomongin soal imigrasi. Brian Barrett nyeletuk, "Kayaknya dia cuma telepon susulan aja setelah sempat mikir-mikir." Zoë Schiffer sendiri terang-terangan enggak percaya. Tim Cook kan dikenal diplomat, selalu mengedepankan kepentingan Apple. Menurut dia, para CEO ini enggak mau berhadapan langsung sama Presiden Trump.
Ketika Karyawan Lebih Berani dari Bos
Tapi yang menarik, para karyawan akar rumput ini justru lebih berani. Mereka pakai X (dulu Twitter) buat menyuarakan, "Ini enggak bener!" Kita juga punya berita eksklusif dari Maxwell Zeff, reporter AI WIRED, tentang karyawan Google DeepMind yang bilang ada agen federal nongol di kantor Google Cambridge. Mereka langsung nanya ke manajemen, "Apa yang kalian lakukan buat menjaga kami tetap aman?"
Zoë mengakui, mungkin ada yang bilang, "Ah, pekerja tech bergaji tinggi ini cuma bikin drama." Tapi coba pikir, Silicon Valley itu banyak banget pekerja imigran, pekerja terampil dari luar negeri. Mereka punya kekhawatiran yang sah soal keselamatan mereka sendiri, perasaan bahwa kekayaan atau pekerjaan mereka mungkin enggak bisa melindungi mereka di momen seperti ini.
Brian Barrett ngasih perspektif lebih tajam lagi: Palantir. Perusahaan ini bekerja sangat dekat sama pemerintah, bahkan punya kontrak $30 juta dengan DHS dan ICE buat bikin platform yang namanya "Immigration OS," tujuannya cuma satu: ngumpulin data buat deportasi. Bayangkan, bahkan karyawan Palantir pun sampai nanya di Slack publik mereka, "Apa yang bisa kita lakukan buat menghentikan ini?" Fakta bahwa karyawan Palantir lebih duluan bereaksi dibanding Tim Cook atau CEO lainnya itu, menurut Brian, "membingungkan." Dunia ini bener-bener terbalik.
Taruhan Jangka Panjang: Apakah Mereka Mengerti?
Tim Marchman punya pertanyaan penting buat Brian dan Zoë: "Menurut kalian, para pemimpin ini ngerti enggak sih taruhan jangka panjangnya?" Dia bilang, di diskusi internal Palantir, ada yang nanya soal kemungkinan pemerintahan Demokrat di masa depan bisa membatalkan kontrak mereka, atau konsekuensi dari kemuakan publik. Tapi para "baron" teknologi ini kayaknya bertindak seolah-olah enggak bakal ada masa setelah momen ini.
Zoë Schiffer bilang, oligarki di Rusia punya pandangan berbeda soal ini. Kalau kamu terus-menerus "tunduk" dan nurut, kamu bakal ada di posisi rentan. Begitu kamu sedikit menyimpang dari "garis partai," tindakan cepat bakal diambil, dan uangmu enggak bakal bisa ngelindungin kamu. Menurutnya, ini "kecerdasan" dari apa yang Trump lakukan. Ketika kamu diminta untuk terus-menerus menggeser "garis moral" mendekati "garis" Trump, lama-lama mereka mikir, "Yah, kita udah datang ke inaugurasi, udah muji Trump ini itu, udah ngelakuin banyak hal buat memposisikan perusahaan kita menang di momen ini." Jadi, kayak udah "rugi duluan" kalau sekarang mau mundur.
Brian Barrett, meski enggak membenarkan, bilang bahwa pada akhirnya, mereka punya "tanggung jawab fidusia" kepada pemegang saham. Duh, kata "fidusia" ini lho! Intinya, mereka harus mengutamakan keuntungan pemegang saham. Dan Donald Trump udah nunjukkin kalau dia bisa bikin perusahaan bangkrut dalam semalam, atau minta AS ambil saham besar di perusahaan itu. Dia bisa melakukan banyak hal ke perusahaan-perusahaan ini dalam jangka pendek, jadi Brian ngerti kenapa mereka merasa terancam. Tapi, sekali lagi, dia enggak setuju dengan cara mereka menanganinya.
TikTok Ganti Pemilik: Algoritma Baru, Kontroversi Lama?
Dari politik yang bikin pusing, mari kita geser sedikit ke dunia TikTok. Ya, kita harus bahas ini! Versi TikTok AS ini sekarang sudah resmi ganti "pemilik." Sejak 22 Januari, kita ada di dunia baru di mana TikTok dimiliki oleh berbagai pemegang saham yang berbasis di AS, tapi juga masih "agak" ByteDance. Algoritmanya masih sama, dan ini semua kayaknya cuma "pertunjukan" belaka, sebagian buat keuntungan teman-teman Donald Trump.
Tapi, baru juga mulai, langsung deh ada drama. Setelah peluncuran, banyak keluhan dari pengguna yang merasa konten-konten kritis terhadap ICE dan Donald Trump jadi "ditekan" atau disensor. Ada yang bilang, "TikTok sekarang lebih banyak sensor konten kami, apalagi sejak perubahan ini." Atau, "Views saya di aplikasi ini sekarang sampah, sejak dibeli Larry Ellison."
Zoë Schiffer bilang ini menarik, karena TikTok memang lagi punya masalah teknis di AS (aplikasinya sempat down buat banyak pengguna). Tapi masalah teknis itu malah diinterpretasikan sebagai sensor, tuduhan yang udah menghantui TikTok bertahun-tahun—dan bahkan jadi alasan kenapa TikTok AS akhirnya dipindahkan ke kepemilikan mayoritas AS. Jadi, orang-orang langsung berspekulasi kalau algoritmanya diubah buat menyenangkan Donald Trump.
Tim Marchman menyoroti, ini masalah tersendiri, terlepas dari apakah pemadaman listrik pusat data (karena badai besar di AS minggu itu) memang penyebabnya atau bukan. Ini jelas bikin kredibilitas pemilik baru di mata banyak pengguna jadi hancur.
Jaring Laba-laba Kepentingan MAGA
Brian Barrett ngingetin lagi soal kepemilikan TikTok. Oracle punya 15 persen saham di joint venture TikTok USDS. Larry Ellison, co-founder Oracle, adalah sekutu dekat Donald Trump. Anak Larry Ellison, David Ellison, CEO Paramount Skydance, yang menempatkan Bari Weiss sebagai kepala CBS News, bikin CBS News bergerak ke arah yang lebih "Trump-friendly." Jadi, kekhawatirannya adalah ini semua bagian dari upaya "penangkapan media dan budaya" yang lebih luas oleh Donald Trump dan kelompoknya. Makanya, orang-orang cepat banget curiga kalau ada perubahan yang seolah-olah mencerminkan hal itu.
Tim Marchman menambahkan, ini memang jaring laba-laba kepentingan yang saling terkait. Salah satu yang dilakukan Paramount (sekarang dikendalikan oleh anak Larry Ellison) adalah menghabiskan miliaran dolar buat hak eksklusif Ultimate Fighting Championship (UFC), yang bakal ngadain pertandingan di halaman Gedung Putih buat merayakan ulang tahun ke-250 negara itu. UFC ini kan ruang budaya di mana Donald Trump coba mendominasi dan menjangkau anak muda. Jadi, masuk akal kalau orang melihat semua ini sebagai serangkaian "ruang ramah MAGA" yang dimiliki oleh rekan-rekan Gedung Putih. Semoga pertandingan pertamanya Elon Musk vs. Mark Zuckerberg ya, udah ditunggu-tunggu banget!
Privasi Pengguna: Lokasi dan Data AI
Masalah lain yang bikin kepercayaan pengguna goyah adalah perubahan terms of service TikTok. Aplikasi ini sekarang minta izin untuk melacak lokasi kita secara lebih detail. Dulu, aplikasi ini enggak ngumpulin lokasi GPS yang presisi dari pengguna AS, tapi sekarang kalau kamu ngasih izin, ya dia bakal ngelakuin itu. Tujuannya sih buat iklan, tapi ini butuh tingkat kepercayaan yang tinggi antara pengguna dan perusahaan, dan TikTok kayaknya lagi kekurangan itu.
Brian Barrett juga bilang, ini tipe hal yang sering kita "klik setuju" tanpa sadar. TikTok juga sekarang melacak data apa pun yang kamu masukkan ke tools AI-nya. Promp atau info apa pun yang kamu kasih, dia bakal melacak dan menggunakannya. Pada akhirnya, ini semua buat menyajikan iklan, tapi ini soal prinsip dan kurangnya transparansi.
Brian berpikir, kalaupun ada manipulasi algoritma TikTok, itu enggak akan "kasar" kayak "Kamu enggak boleh posting tentang ICE." Dia lebih khawatir perubahan algoritmanya bakal lebih halus, kayak apa yang muncul di feed orang, apa yang dipromosikan, dan apa yang enggak. Karena itu terjadi di "kotak hitam" algoritma yang enggak bisa kita kuantifikasi dari luar, tapi bisa memengaruhi sentimen pengguna. Dan itu persis yang pengen mereka hindari pas awal-awal proses "melepaskan" TikTok dari kepemilikan Tiongkok.
Moltbot: Asisten AI Pribadi yang Bikin Penasaran (dan Was-Was)
Nah, sekarang, mari kita pindah ke bagian yang paling "ringan" tapi juga paling "bikin penasaran" minggu ini: Moltbot! Pernah dengar?
Zoë Schiffer menjelaskan, ini adalah asisten AI yang ajaib. Dia bisa menghubungkan banyak aplikasi berbeda di komputermu, berjalan secara lokal (di komputermu sendiri), dan yang paling penting, kamu bisa ngobrol dengannya lewat aplikasi pesan. Jadi, kamu kirim perintah, terus dia bakal ngurusin hidupmu!
Asisten AI ini enggak datang dari raksasa teknologi kayak Google atau OpenAI. Moltbot dibuat sama seorang Peter Steinberger sendirian. Dia cuma pengen iseng-iseng bikin sesuatu yang berfungsi, dan tiba-tiba sadar, "Eh, jangan-jangan aku bikin asisten AI paling berguna nih?" Awalnya dia cuma coba ngirim voice memo ke bot itu, dan botnya bisa mengubah voice memo jadi teks, terus menafsirkan informasi, dan ngelakuin apa yang dia mau. Keren banget, kan?
Penggunaannya? Ada yang pakai buat tugas kompleks, tapi kebanyakan cuma buat jadwal rapat, kirim catatan, atau ngatur kalender harian. Kelihatannya sih simpel, tapi proses setup-nya lumayan kompleks. Brian Barrett bilang, bagian frontend-nya itu sulit, tapi setelah itu, kamu punya "teman kecil" yang bekerja di belakang layar buat kamu. Ada yang sampai pakai Moltbot buat ngurusin seluruh bisnis kecilnya, mulai dari memproses faktur sampai berinteraksi dengan pelanggan.
Tapi, Tunggu Dulu! Ada Tapinya Nih: Risiko Keamanan
Zoë cerita, Will Knight, reporter WIRED yang nulis soal Moltbot, sampai "Moltbot-pilled" (tergila-gila Moltbot) dan nanya, "Kira-kira Condé Nast mau enggak ya kalau aku pasangin ini buat semua orang?" Jawaban Zoë jelas: "Enggak mungkin!"
Ini membawa kita ke bagian di mana Tim Marchman ngasih "peringatan keras." Ada orang yang ngasih informasi kartu kredit atau login akun Amazon-nya ke Moltbot, terus Moltbot-nya disuruh belanja. Tim bilang, "Ini ide yang buruk!" Dia menyarankan, jangan terlalu panik soal kemampuan program atau kerentanan yang mungkin muncul, tapi coba "modelkan ancamannya." Apa skenario terburuk yang bisa terjadi kalau ini salah?
Kalau cuma buat urusan sepele kayak ngatur daftar komik, ya mungkin enggak masalah. Paling-paling kamu salah order kebanyakan komik. Tapi kalau udah berurusan sama info medis atau finansial, kamu harus berasumsi bahwa kamu menaruh itu di internet publik. Enggak selalu terjadi, tapi kamu harus siap buat itu. Tim menyarankan buat sangat hati-hati dan jangan pernah ngasih akses langsung ke sesuatu yang kamu enggak mau ibumu tahu. Ibumu pasti enggak mau tahu berapa banyak komik Batman yang kamu beli, Tim!
Brian Barrett menambahkan, kegunaan alat-alat AI ini sebanding dengan seberapa banyak informasi yang kamu kasih ke mereka. Jadi, ini kayak lingkaran berbahaya: "Wah, ini bagus buat ngatur kalenderku. Kira-kira bisa ngapain lagi ya?" Semua "apa lagi" itu melibatkan peningkatan eksposur datamu. Meskipun Moltbot berjalan secara lokal di komputermu, dia juga bisa dijalankan di cloud, dan banyak orang mungkin enggak peduli atau enggak sadar risikonya.
Dari ClawdBot ke Moltbot, dan Masa Depan Agen AI
Zoë juga ngasih tahu soal perubahan nama dari ClawdBot jadi Moltbot. Ternyata Anthropic, perusahaan pembuat produk AI bernama Claude, enggak terima dan bilang, "Enggak boleh! Aplikasi ini enggak ada hubungannya sama perusahaan kami." Jadi Peter Steinberger milih Moltbot karena "molting" itu kan proses udang atau lobster ganti kulit. Jadi, dia "ganti kulit" dari nama ClawdBot. Puitis juga ya!
Brian Barrett bilang, Moltbot ini mungkin kelihatan jauh buat banyak orang, tapi agen AI kayak gini sebenarnya udah makin dekat. Google baru aja ngumumin fitur "auto-browse" di Chrome. Ini buat pengguna paket AI berbayar Google, tapi mirip banget konsepnya: Google ngasih kamu agen AI yang bisa browsing web buat kamu, belanja buat kamu, atau bahkan booking penerbangan. Ini jauh lebih mainstream dan bakal jadi perkenalan banyak orang ke agen AI, apalagi kalau nanti mereka ngeluarin dari paket berbayar dan ngasih ke semua orang, kayak yang udah mereka lakuin sama produk AI lain.
Tim Marchman lagi-lagi ngingetin, "Semoga orang-orang bisa memisahkan data mereka. Kalau mau coba-coba ngasih akses kartu kredit, pakai kartu yang kalaupun habis dikuras malware, kamu masih bisa bayar cicilan rumah." Intinya, pakai akal sehat!
WIRED/TIRED: Apa yang Lagi Nge-Tren dan Apa yang Udah Ketinggalan Zaman
Oke, biar suasana makin santai, yuk kita masuk ke segmen favorit kita: WIRED/TIRED! Apa yang lagi keren dan apa yang udah enggak hype lagi.
Tim Marchman:
- WIRED: Perlawanan tanpa kekerasan. Menurutnya, ini efektif, berhasil, dan bukan tanda kelemahan. Ini alat terkuat yang kita punya. Apa yang terjadi di Minnesota, kedisiplinan dan kepeduliannya, kemauan untuk secara fisik menempatkan diri di antara negara dan mereka yang diserang, itu adalah bukti kekuatannya. Dan fakta bahwa ini punya efek konkret pada personel dan kebijakan, menunjukkan bahwa apa yang lama itu sekarang jadi baru lagi. Keren!
Brian Barrett:
- TIRED: Jam Kiamat (Doomsday Clock). Dia udah capek deh sama jam ini. Jam Kiamat ini ngasih tahu seberapa dekat kita ke tengah malam (kiamat), dirilis tiap tahun sama Bulletin of the Atomic Scientists. Minggu ini mereka ngumumin kita tinggal 85 detik lagi menuju tengah malam, yang paling dekat yang pernah ada. Brian menghargai tujuannya, tapi menurutnya, mau 85 atau 88 detik, dia udah tahu kalau situasinya buruk. Menguantifikasi itu enggak bikin dia lebih baik dalam memprosesnya. Valid juga sih.
- WIRED: Jam logika kuantum (quantum logic clocks). Ini agak lebih lama, tapi ini jam paling presisi di dunia, sampai ke posisi desimal ke-19! Dibuat sama peneliti di National Institute of Standards and Technology. Akurat banget, dan bikin kamu bisa nyebut frasa "jam logika kuantum" dalam percakapan santai. WIRED banget!
Zoë Schiffer:
- TIRED: iPad bayi. No offense buat siapa pun yang harus ngasih anaknya layar karena alasan apa pun. Zoë bilang dia sering begitu. Tapi dia punya alternatif yang lebih WIRED!
- WIRED: Moflin. Ini semacam hamster robot AI. Zoë ngasih ke anaknya yang 4 tahun, Ava, dan Ava cinta banget sama hamster ini. Dia bikin suara-suara kecil, dan Zoë enggak yakin AI-nya di mana atau apakah memang ada. Tapi dia bangun dan bergerak. Katanya sih, seiring interaksi, dia belajar isyarat kita. Tapi semua yang bisa dia lakukan cuma bikin suara mencicit dan berguling-guling di lantai. Tapi Ava terobsesi banget! Dikasih nama Puff, dan sekarang tinggal di rumah mereka. Lucu banget!
Gimana? Cukup "roller coaster" ya minggu ini? Dari berita politik yang bikin panas hati, drama para bos teknologi yang bikin geleng-geleng, sampai asisten AI yang bikin penasaran tapi juga was-was, plus mainan robot hamster yang bikin gemes. Dunia teknologi dan politik memang penuh kejutan, dan kadang bikin kita berpikir, "Duh, ada-ada aja!"
Tapi, untungnya kita punya podcast kayak Uncanny Valley yang bantu kita memilah informasi dan ngasih pandangan yang santai tapi tetap kritis. Jadi, tetap update, tetap kritis, dan jangan lupa, tetap santai! Sampai jumpa di episode "Uncanny Valley" berikutnya, ya!
